Saturday, 21 October 2017

10 Hal Turunnya Rahmat Allah SWT

Sesungguhnya Allah Ta'ala Maha Pemberi rahmat (kasih sayang). Bahkan sayangNya terhadap hamba-hambaNya lebih dari sayangnya seorang ibu kepada anaknya. Dengan kasih sayangNya, Dia menciptakan kita. Dengan rahmatNya, Dia memberikan rizki kepada kita. Dengan rahmatNya, Dia memberikan kesehatan kepada kita. Dengan rahmatNya, Dia memberikan makan dan minum, pakaian serta tempat tinggal kepada kita. Dengan rahmatNya, Dia menunjukkan kita kepada Islam dan Iman serta amal shalih. Dengan rahmatNya, Dia mengajarkan kepada kita apa yang tidak kita ketahui. Dengan rahmatNya, Dia memalingkan kejahatan musuh-musuh dari diri kita. Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Sesungguhnya Allah Ta'ala membela orang-orang yang telah beriman." (QS. al-Hajj: 38).
Dengan rahmatNya, Dia menurunkan hujan dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan,. Dengan rahmatNya, Dia memasukkan hamba-hambaNya yang beriman dan yang beramal shalih ke dalam surga. Dengan rahmatNya, Dia menyelamatkan mereka dari Neraka. Segala sesuatu semuanya adalah berkat rahmat Allah Ta'ala. Oleh karenanya seorang muslim perlu mengetahui faktor penyebab, Allah Ta'ala memberikan rahmat kepada makhlukNya, yaitu:
  1. Berbuat Ihsan dalam beribadah kepada Allah Ta'ala dengan menyempurnakan ibadah kepadaNya dan merasa dimonitor (diawasi) oleh Allah Ta'ala, bahwasanya kamu beribadah kepada Allah Ta'ala, seolah-olah kamu melihatNya, maka jika kamu tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu, dan berbuat baik kepada
    manusia semaksimal mungkin, baik dengan ucapan, perbuatan, harta, dan kedudukan.  Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. al-A'raf: 56).
  2. Dan di antara sebab-sebab yang paling utama untuk mendapatkan rahmat Allah Ta'ala adalah bertakwa kepadaNya dan menaatiNya dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, seperti mengeluarkan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya (Mustahiq), beriman dengan ayat-ayat Allah swt, dan mengikuti RasulNya. Allah Ta'ala berfirman, artinya,"Dan rahmatKu meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi."  (QS. al-A'raf: 156,157).
  3. Kasih sayang kepada makhluk-makhlukNya baikmanusia maupun binatang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Orang-orang yang penyayang,maka Allah Ta'ala akan menyayangi mereka (memberikan rahmat kepada mereka), sayangilah/ kasilah penduduk bumi, niscaya penduduk langit akan menyayangi kalian."(HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi).Dan hal itu lebih ditekankan lagi kepada orang-orangfakir dan miskin yang sangat membutuhkan. Sedangkan balasan (ganjarannya) sesuai dengan perbuatan, sebagaimana kita berbuat baik, maka kita akanmendapatkan balasan dari kebaikan tersebut.
  4. Beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan AllahTa'ala. Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Sesungguhnyaorang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampunlagi Maha Penyayang." (QS. al-Baqarah: 218). Maka orang-orang yang beriman selalu mengharapkanrahmat Allah Ta'ala setelah mereka melaksanakansebab-sebab mendapatkan rahmat yaitu iman, hijrah, dan berjihad di jalan Allah Ta'ala. Adapun hijrah meliputi berpindah dari negri syirik ke negri Islam danmeninggalkan apa yang dilarang Allah Ta'ala danRasulNya shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimanaRasululullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkanapa yang dilarang oleh Allah Ta'ala." (Muttafaq 'alaih). Sedangkan jihad mencakup jihad melawan hawa nafsu dalam menaati Allah Ta'ala, sebagaimana yangdisabdakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Orang yang berjihad adalah orang yang memerangi hawanafsunya dalam menaati Allah Ta'ala." (HR. al-Baihaqi). Sebagaimana jihad meliputi pula jihad melawan setandengan menyelisihinya dan bersungguh-sungguh untuk mendurhakainya dan jihad dalam memerangi orang-orang kafir dan jihad terhadap orang-orang munafikdan pelaku-pelaku maksiat baik dengan tangan, kemudian (jika tidak mampu) dengan lisan, kemudian(jika tidak mampu juga), maka dengan hati. 
  5. Mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menaati Rasulullah Ta'ala, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, danta'atlah kepada Rasul, supaya kamu diberirahmat." (QS. an-Nur: 56).
  6. Berdo'a kepada Allah Ta'ala untuk mendapatkannyadengan bertawasul dengan nama-namaNya yang Maha Pengasih (ar-Rahman) lagi Maha Penyayang (ar-Rahim)atau yang lainnya dari nama-namaNya yang Agung/Indah, seperti kamu mengatakan, "Ya Rahman (WahaiYang Maha Penyayang), sayangilah aku (rahmatilahaku), ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan rahmatMu yang luas yang meliputi segala sesuatu agar Engkau mengampuni dosaku danmenyayangiku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami darisisiMu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)." (QS. al-Kahfi: 10). Dan Allah Ta'ala juga berfirman, artinya, "Hanya milik Allah asma`u al-Husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asma`u al-Husna itu." (QS. al-A'raf:180). Maka hendaklah seseorang memohon setiappermintaannya dengan nama yang sesuai dengan permintaannya itu untuk mendapatkannya. Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdo'alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu'." (QS. al-Mu'min: 60). Dan firman Allah Ta'ala lainnya, artinya, "Dankatakanlah, 'Ya Tuhanku berilah ampun dan berilahrahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik." (QS. al-Mu'minun: 118). Sungguh Allah Ta'ala telah menyuruh (kita) berdo'a danmenjamin ijabah (mengabulkan do'a tersebut) dan Dia Maha Suci yang tidak pernah mengingkari janji.
  7. Mengikuti al-Qur`an al-Karim dan mengamalkannya. Allah Ta'ala berfirman, artinya, "DanAl-Qur`an itu adalah kitab yang Kami turunkan yangdiberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat." (QS. al-An'am: 155).
  8. Menaati Allah Ta'ala dan RasulNya shallallahu'alaihi wasallam sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat." (QS. Ali 'Imran: 132).
  9. Mendengarkan dan memperhatikan dengan tenang ketika dibacakan al-Qur`an al-Karim. Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Dan apabila dibacakan Al-Qur`an,maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengantenang agar kamu mendapat rahmat." (QS. al-A'raf:204).
  10. Istighfar, memohon ampunan dari Allah Ta'ala.Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat." (QS. an-Naml: 46). Wallahua'lam.
Sumber: Diterjemahkan dari Kitab "An-Nuqath
al-'Asyarah adz-Dzahabiyah", Syaikh Abdur Rahman ad-Dusari.

Asal Usul Nama Indonesia

Ini adalah video salah satu asal usul Nama Indonesia, Silahkan anda bisa lihat :


adapun yang lainnya :




adapun yang lainnya :


POTENSI BISNIS DI TEGAL

POTENSI INDUSTRI RUMAH TANGGA DI
KABUPATEN TEGAL

hebatnya tegal ternyata jepangnya indonesia

Istilah “Warteg” alias
warung Tegal pastinya
sudah tidak asing lagi
ditelinga masyarakat.
Namun, selain dikenal
karena warung makannya
yang menawarkan aneka menu rames dengan
harga yang sangat terjangkau, Kabupaten Tegal
ternyata juga memiliki banyak potensi industri
rumah tangga yang menopang perekonomian
daerah setempat.
Terletak di jalur utama pantura, Kabupaten Tegal
memiliki luas wilayah sekitar 901,52 km dan
dikenal sebagai salah satu daerah terpadat di
Provinsi Jawa Tengah. Berbatasan langsung
dengan Laut Jawa dan Kota Tegal di sebelah
utara, Bumiayu dan Banyumas di bagian selatan,
Kabupaten Brebes di sebelah barat, serta
Kabupaten Pemalang di bagian timur, secara
administratif Kabupaten Tegal terbagi menjadi 18
kecamatan yang membawahi 281 desa dan 6
daerah kelurahan.
Melihat kondisi geografis Tegal yang terbilang
unik, yakni terbagi menjadi daerah pegunungan
dan setengah lainnya adalah daerah pantai, Tegal
memiliki banyak potensi bisnis yang mulai
dikembangkan menjadi industri rumah tangga.
Beberapa potensi industri rumah tangga yang
mulai dijalankan masyarakat Tegal antara lain
industri pengecoran dan pengerjaan logam,
industri tekstil (tenun dan bordir), industri
shuttlecock, serta industri pengolahan hasil ikan
yang dikembangkan di kawasan Tegal Barat.
Industri Logam di Kabupaten Tegal
Sempat dijuluki sebagai Jepangnya negara
Indonesia, Tegal mempunyai beberapa industri
pengecoran dan pengerjaan logam yang sengaja
dibangun pada tahun 1940 untuk mencukupi
kebutuhan peralatan perang bagi tentara Jepang.
Dari situ, masyarakat mulai mendapatkan
keterampilan untuk mengerjakan logam sehingga
keahlian tersebut digunakan untuk membangun
bengkel-bengkel sederhana di sekitar Kabupaten
Tegal. Melihat peluang pasarnya semakin besar,
sekarang ini aktivitas industri logam dibagi
menjadi tiga golongan, yaitu industri pengerjaan
logam, industri pengecoran logam serta galangan
kapal dan dok. Industri tersebut kini telah
tersebar di berbagai penjuru Tegal, seperti
misalnya di desa Tembok Luwung, Lemah Duwur,
Talang, Kajen, Kebasen, serta Kecamatan
Adiwerna. Tidak hanya itu saja, pada tahun 1982
Desa Talang dan Cempaka telah ditetapkan
sebagai lingkungan industri kecil mengengah
perlogaman Takaru (Talang Cempaka Baru).
Industri Tekstil (Tenun dan Bordir)
Sejak puluhan tahun silam, Kabupaten Tegal
dikenal sebagai salah satu sentra penghasil
kerajinan tenun yang kualitas produknya mulai
menembus pasar ekspor. Kerajinan tenun ikat
ATBM yang banyak diproduksi masyarakat tegal
adalah sarung byur yang dikembangkan
masyarakat Kelurahan Kraton, Mintaragen,
Pekauman, serta Clan Kejambon, yang seluruhnya
bisa memproduksi kurang lebih 20.000 kodi kain
tenun per tahunnya. Selain tenun, Tegal juga
memiliki potensi kerajinan bordir yang bisa kita
temui di Kelurahan Randugunting dan Desa
Debong Tengah (Kabupaten Tegal bagian Selatan).
Sedikitnya ada sekitar 13 pelaku industri rumah
tangga yang berhasil memproduksi kerudung
bordir sekitar 1.500 kodi dan busana muslim
serta pakaian hingga 50.000 stel per tahunnya.
Industri Shuttlecock dari Tegal
Siapa sangka bila industri
shuttlecock yang kini telah
berhasil menembus pasar
mancanegara, awalnya
merupakan industri
rumahan yang
dikembangkan masyarakat Tegal. Bisnis yang
telah digeluti secara turun temurun oleh
masyarakat Tegal ini, kini jumlahnya mencapai
210 unit usaha kecil dan menengah, serta 10 unit
lainnya merupakan unit perusahaan besar atau
pabrikan. Beberapa perusahaan shuttlecock yang
cukup ternama di Kabupaten Tegal antara lain PT.
Gajahmada berlokasi di Jalan Gajahmada, PT.
Sinar Mutiara di Jalan Kapten Sudibyo, PT. Mido
di Jalan Udang, PT. Tora Sakti Indotama dan PT.
Garuda Budiono Putra.
Menjamurnya potensi industri rumah tangga di
Kabupaten Tegal, menjadi salah satu faktor
pendukung pertumbuhan ekonomi di daerah
tersebut. Tidaklah heran bila daerah ini
kemudian dijuluki sebagai Jepangnya Indonesia,
karena perkembangan industri di wilayah Tegal
berkembang cukup pesat setiap tahunnya. Semoga
informasi ini bisa memberikan tambahan bagi
para pembaca dan menginspirasi seluruh
masyarakat Indonesia untuk segera merintis
usaha dengan mengoptimalkan potensi daerah
yang ada di sekitarnya. Maju terus UKM Indonesia
dan salam sukses!

Cara Menghilangkan Sablon di Baju Kaos Efektif

Cara Menghilangkan Sablon di Baju Kaos Efektif


Pemilik usaha sablon juga seorang manusia, bisa saja mereka melakukan kesalahan dalam pengerjaan pesanan. Misalkan saja kita memesan kaos dengan motif tertentu namun hasilnya kurang rapi dan banyak noda di pakaian tersebut. Kita berfikir bagaimana cara menghilangkan sablon di baju ?

Problem lain adalah jika kita tidak sengaja mensetrika tepat di sablon, gambar akan langsung rusak jika setrika sudah panas. Dari pada tidak enak dipandang, bukanlah lebih baik dihilangkan total.

Menghilangkan sablon pada pakaian, mungkin sebagian orang menganggapnya susah untuk dilakukan dan tidak terlalu penting karena sebenarnya seiring dipakai, dicuci, dijemur dan setrika, yang namanya sablon akan mengelupas dengan sendirinya. Namun sebenarnya ada cara cepat untuk menghapus sablon karet pada kaos.

Tips ini saya ambil dari sebuah thread di Kaskus, mas tatarastavazzz mengisahkan bahwa dia memesan sablon pada jersey kesayangannya. Namun pihak sablon salah cetak nama, sayang mas tatarastavazz tidak segera meminta ganti rugi. Dari pada jersey bola / futsal tersebut tidak terpakai alangkah baiknya sablon tersebut dihapus saja. Banyak kaskuser yang merespon dan memberikan tips cara menghilangkan sablon karet yang mudah dilakukan dan terbukti efektif.

Cara Menghilangkan Sablon di Baju Kaos

Menggunakan Cairan M3/M4

Cairan M3 bisa didapatkan di toko perlengkapan alat sablon, sebotol kecil dapat didapatkan dengan harga 7000 s/d 10000. Sedangkan M4 lebih keras dan tentu lebih efektif.

Siapkan juga terlebih dahulu kain bekas yang tidak terpakai. Basahi kain tersebut dengan cairan M3 lalu usapkan ke sablon yang ingin dihilangkan. Setelah cairan merata, segera gosok dengan sikat cuci.

Hati-hati jangan sampai terkena sablonan lain, karena sekali M3 terserap sablon maka gambar akan langsung memudar. Lakukan beberapa kali perlakuan cara menghilangkan sablon pada kaos di atas sampai benar-benar bersih.

Cairan kimia lain yang dapat digunakan untuk menghapus sablon adalah Thinner dan Paint Remover.
Cara Menghilangkan Sablon di Baju Kaos

Menggunakan Setrika

Jika tipe sablon yang digunakan adalah Polyflex, cukup menggunakan setrika. Sablon jenis ini cukup mudah dihilangkan.

Sediakan alat dan bahan:
  • Kaos yang akan dieksekusi
  • Alkohol
  • Setrika
  • Kain Kering
Langkah yang dilakukan:
  • Panaskan Setrika
  • Taruh kaos dengan sablon yang akan dihapus pada tempat rata
  • Taruh kain kering di atas sablon, lalu tempelkan setrika selama 5 detik
  • Ambil kain kering, lalu oleskan alkohol selagi sablonan masih panas
  • Sablonan pada kaos akan mulai mengkerut dan #mungkin sudah bisa dilepas
  • Olesi bekas sablon/ lem pada kaos dengan alkohol lalu gosok dengan kain kering
  • Cuci kaos tersebut
Proses di atas membutuhkan kehati-hatian karena bisa saja setrika yang panas akan merusak sablon lain yang sebenarnya ingin dipertahankan.

Cara Menghilangkan Bekas Sablon

Setelah melakukan cara menghapus sablon di kaos sebelumnya mungkin masih ada bekas lem yang tertinggal (membentuk bayangan). Beberapa orang menyarankan untuk menutup bekas tersebut dengan gambar baru ataupun dengan bordir. Namun ada cara mudah untuk menghapus bayangan sablon tersebut yaitu dengan cairan ulano 8, teteskan cairan tersebut pada bekas sablon lalu gosok dengan lap. Sebenarnya dengan proses pemakain lalu cuci yang berulang-ulang maka bayangan lem akan hilang dengan sendirinya.

Itulah beberapa cara menghilangkan sablon pada pakaian bisa dipraktekan pada jaket, kaos, jersey dll. Keefektifan cara di atas juga tergantung pada jenis kain dan sablon. Sekian artikel dari blog kami, semoga bermanfaat bagi para pembaca.
 

Kisah Anak Durhaka

TEGAL : TOKO MURAH

Ada di TEGAL Loooh....

Ada berbagai Produk Murah di TEGAL
Yuh intip ...........>>>>>

Aisyah Collection menyediakan :
1. Kaos kaki Muslin seperti Soka, Kanik,
     ainun, anna dan kaos kaki umum
2. Berbagai macam produck Tupperware
3. Berbagai macam produck Madu Mubarok      Asli dari Jogjakarta
4. Berbagai macam bross
5. Gantungan kunci asli tegalan dan lainnya
6. Susu kambing Etawa "VELIN"
7. Avail
8. Jilbab, baju gamis, dll

Hubungi :
Farij Maftukhin
Jl. Angsana 5 No. 23 Mejasem - Tegal

WA. 0823 2724 1566
PIN BB. D5EF38C2
Facebook. Farij Maftukhin

Sejarah Batik Indonesia

Sejarah Batik
Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram,
kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta. Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad
ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah
perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian
Batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda.Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja
Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.
Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga
kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.
Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda
abu, serta garamnya dibuat dari tanahlumpur
JAMAN MAJAPAHIT
Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, pat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojoketo adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa
dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan
pembatikan didaerah ini, dapat digali dari
peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal
dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak
mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.
Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahati, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan disekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret.
Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluara kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulungagung antara lain juga membawa
kesenian membuat batik asli.
Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Diluar daerah Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Pada akhir abad ke-XIX ada beberapa
orang kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya. Obat-obat luar negeri baru dikenal sesudah perang dunia kesatu yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan
dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri. Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya dipasar Porong Sidoarjo, Pasar Porong ini sebelum
krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh, karena pengusaha-pengusaha kebanyakan kecil usahanya. Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Jepang masuk ke Indonesia, dan waktu pendudukan Jepang kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan
pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan. Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran
Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Yang dikenal sejak lebih dari seabad yang lalu tempat pembatikan didesa Majan dan Simo. Desa ini juga mempunyai riwayat sebagai peninggalan dari zaman peperangan Pangeran Diponegoro tahun
1825.
Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman
Majapahait namun perkembangan batik mulai menyebar sejak pesat didaerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakata, pada jaman kerajaan di daerah ini. Hal itu tampak bahwa perkembangan
batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipenagruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.
Didalam berkecamuknya clash antara tentara kolonial Belanda dengan pasukan-pasukan pangeran Diponegoro maka sebagian dari pasukan-pasukan Kyai Mojo mengundurkan diri kearah timur dan sampai sekarang bernama Majan. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan ini desa Majan berstatus desa Merdikan (Daerah Istimewa), dan kepala desanya seorang kiyai yang statusnya Uirun-temurun.Pembuatan batik Majan ini merupakan naluri (peninggalan) dari seni membuat batik zaman perang Diponegoro itu. Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Sebagai batik setra sejak dahulu kala terkenal juga didaerah desa Sembung, yang para pengusaha
batik kebanyakan berasal dari Sala yang datang di Tulungagung pada akhir abad ke-XIX. Hanya sekarang masih terdapat beberapa keluarga pembatikan dari Sala yang menetap didaerah Sembung. Selain dari tempat-tempat tesebut juga
terdapat daerah pembatikan di Trenggalek dan juga ada beberapa di Kediri, tetapi sifat pembatikan sebagian kerajinan rumah tangga dan babarannya batik tulis. Jaman Penyebaran Islam
Riwayat pembatikan di daerah Jawa Timur lainnya adalah di Ponorogo, yang kisahnya berkaitan dengan penyebaran ajaran Islam di daerah ini.
Riwayat Batik. Disebutkan masalah seni batik didaerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam dan kerajaan- kerajaan dahulu. Konon, di daerah Batoro Katong,
ada seorang keturunan dari kerajaan Majapahit yang namanya Raden Katong adik dari Raden Patah. Batoro Katong inilah yang membawa agama Islam ke Ponorogo dan petilasan yang ada
sekarang ialah sebuah mesjid didaerah PatihanWetan. Perkembangan selanjutanya, di Ponorogo, di daerah Tegalsari ada sebuah pesantren yang
diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Pesantren Tegalsari ini selain mengajarkan agama Islam juga
mengajarkan ilmu ketatanegaraan, ilmu perang dan kesusasteraan. Seorang murid yang terkenal dari Tegalsari dibidang sastra ialah Raden
Ronggowarsito. Kyai Hasan Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Kraton Solo. Waktu itu seni batik baru terbatas dalam lingkungan kraton. Oleh karena putri keraton Solo menjadi istri Kyai Hasan Basri maka dibawalah ke
Tegalsari dan diikuti oleh pengiring-pengiringnya. disamping itu banyak pula keluarga kraton Solo belajar dipesantren ini. Peristiwa inilah yang membawa seni bafik keluar dari kraton menuju ke
Ponorogo. Pemuda-pemudi yang dididik di Tegalsari ini kalau sudah keluar, dalam masyarakat akan menyumbangkan dharma batiknya dalam bidang- bidang kepamongan dan agama.
Daerah perbatikan lama yang bisa kita lihat sekarang ialah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono,
Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten,
Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Waktu itu obat-obat yang dipakai dalam pembatikan ialah buatan dalam negeri sendiri dari kayu-kayuan
antara lain; pohon tom, mengkudu, kayu tinggi. Sedangkan bahan kainputihnyajugamemakai buatan sendiri dari tenunan gendong. Kain putih import bam dikenal di Indonesia kira-kira akhir abad ke-19. Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas.
Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur dan itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak memberikan
pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo. Akibat dikenalnya batik cap maka produksi Ponorogo setelah perang dunia petama sampai pecahnya perang dunia kedua terkenal dengan batik kasarnya yaitu batik cap mori biru.
Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal seluruh Indonesia.
BATIK SOLO & YOGYAKARTA
Dari kerjaan-kerajaan di Solo dan Yogyakarta sekitamya abad 17,18 dan 19, batik kemudian berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Awalnya batik hanya sekadar hobi dari para keluarga raja di dalam berhias lewat pakaian. Namun perkembangan selanjutnya, pleh masyarakat batik dikembangkan menjadi komoditi perdagamgan. Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeribseperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari
dahulu. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”. Sedangkan Asal-usul pembatikan didaerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-I dengan raj any a Panembahan Senopati.
Daerah pembatikan pertama ialah didesa Plered. Pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu. Dari sini
pembatikan meluas pada trap pertama pada keluarga kraton lainnya yaitu istri dari abdi dalem dan tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombonasi batik
dan lurik. Oleh karena kerajaan ini mendapat kunjungan dari rakyat dan rakyat tertarik pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga kraton dan ditiru oleh rakyat dan akhirnya
meluaslah pembatikan keluar dari tembok kraton. Akibat dari peperangan waktu zaman dahulu baik antara keluarga raja-raja maupun antara penjajahan Belanda dahulu, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap didaerah-daerah baru antara lain ke
Banyumas, Pekalongan, dan kedaerah Timur Ponorogo, Tulungagung dan sebagainy a. Meluasnya daerah pembatikan ini sampai kedaerah-daerah
itu menurut perkembangan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dimulai abad ke-18. Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan seluruh pelosok pulau
Jawa yang ada sekarang dan berkembang menurut alam dan daerah baru itu.
Perang Pangeran Diponegoro melawan Belanda, mendesak sang pangeran dan keluarganya serta para pengikutnya harus meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah
Timur dan Barat. Kemudian di daerah-daerah baru itu para keluarga dan pengikut pangeran Diponegoro mengembangkan batik.
Ke Timur batik Solo dan Yogyakarta
menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung. Selain itu juga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkem-bang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, Cirebon.
PERKEMBANGAN BATIK di Kota-kota lain
Perkembangan batik di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegero setelah selesa-inya peperangan tahun 1830, mereka kebanyakan menetap didaerah Banyumas. Pengikutnya yang
terkenal waktu itu ialah Najendra dan dialah mengembangkan batik celup di Sokaraja. Bahan mori yang dipakai hasil tenunan sendiri dan obat pewama dipakai pohon tom, pohon pace dan mengkudu yang memberi warna merah kesemuan
kuning. Lama kelamaan pembatikan menjalar pada rakyat Sokaraja dan pada akhir abad ke-XIX berhubungan
langsung dengan pembatik didaerah Solo dan Ponorogo. Daerah pembatikan di Banyumas sudah dikenal sejak dahulu dengan motif dan wama khususnya dan sekarang dinamakan batik Banyumas. Setelah perang dunia kesatu
pembatikan mulai pula dikerjakan oleh Cinadisamping mereka dagang bahan batik. Sama halnya dengan pembatikan di Pekalongan. Para pengikut Pangeran Diponegoro yang menetap di daerah ini kemudian mengembangkan usaha
batik di sekitara daerah pantai ini, yaitu selain di daerah Pekalongan sendiri, batik tumbuh pesat di Buawaran, Pekajangan dan Wonopringgo. Adanya pembatikan di daerah-daerah ini hampir bersamaan dengan pembatikan daerah-daerah
lainnya yaitu sekitar abad ke-XIX. Perkembangan pembatikan didaerah-daerah luar selain dari Yogyakarta dan Solo erat hubungannya dengan
perkembangan sejarah kerajaan Yogya dan Solo. Meluasnya pembatikan keluar dari kraton setelah berakhirnya perang Diponegoro dan banyaknya
keluarga kraton yang pindah kedaerah-daerah luar Yogya dan Solo karena tidak mau kejasama dengan pemerintah kolonial. Keluarga kraton itu membawa pengikut-pengikutnya kedaerah baru itu
dan ditempat itu kerajinan batik terus dilanjutkan dan kemudian menjadi pekerjaan untuk pencaharian. Corak batik di daerah baru ini disesuaikan pula
dengan keadaan daerah sekitarnya. Pekalongan khususnya dilihat dari proses dan designya banyak dipengaruhi oleh batik dari Demak. Sampai awal
abad ke-XX proses pembatikan yang dikenal ialah batik tulis dengan bahan morinya buatan dalam negeri dan juga sebagian import. Setelah perang
dunia kesatu baru dikenal pembikinan batik cap dan pemakaian obat-obat luar negeri buatan Jerman dan Inggris.
Pada awal abad ke-20 pertama kali dikenal di Pekajangan ialah pertenunan yang menghasilkan stagen dan benangnya dipintal sendiri secara sederhana. Beberapa tahun belakangan baru
dikenal pembatikan yang dikerjakan oleh orang-orang yang bekerja disektor pertenunan ini. Pertumbuhan dan perkembangan pembatikan lebih
pesat dari pertenunan stagen dan pernah buruh-buruh pabrik gula di Wonopringgo dan Tirto lari ke perusahaan-perusahaan batik, karena upahnya lebih tinggi dari pabrik gula. Sedang pembatikan dikenal di Tegal akhir abad ke-XIX dan bahwa yang dipakai waktu itu buatan sendiri yang diambil dari tumbuh-tumbuhan: pace/
mengkudu, nila, soga kayu dan kainnya tenunan sendiri. Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran abu-abu setelah dikenal nila pabrik, dan kemudian meningkat menjadi warna
merah-biru. Pasaran batik Tegal waktu itu sudah keluar daerah antara lain Jawa Barat dibawa sendiri oleh pengusaha-pengusaha secara jalan kaki dan mereka inilah menurut sejarah yang mengembangkan batik di Tasik dan Ciamis
disamping pendatang-pendatang lainnya dari kota-kota batik Jawa Tengah.
Pada awal abad ke-XX sudah dikenal mori import dan obat-obat import baru dikenal sesudah perang dunia kesatu. Pengusaha-pengusaha batik di Tegal kebanyakan lemah dalam permodalan dan bahan
baku didapat dari Pekalongan dan dengan kredit dan batiknya dijual pada Cina yang memberikan kredit bahan baku tersebut. Waktu krisis ekonomi pembatik-pembatik Tegal ikut lesu dan baru giat kembali sekitar tahun 1934 sampai permulaan
perang dunia kedua. Waktu Jepang masuk
kegiatan pembatikan mati lagi.
Demikian pila sejarah pembatikan di Purworejo bersamaan adanya dengan pembatikan di Kebumen yaitu berasal dari Yogyakarta sekitar abad ke-XI.
Pekembangan kerajinan batik di Purworejodibandingkan dengan di Kebumen lebih cepat di Kebumen. Produksinya sama pula dengan Yogya
dan daerah Banyumas lainnya.
Sedangkan di daerah Bayat, Kecamatan Tembayat Kebumen-Klaten yang letaknya lebih kurang 21 Km sebelah Timur kota Klaten. Daerah Bayat ini adalah desa yang terletak dikaki gunung tetapi
tanahnya gersang dan minus. Daerah ini termasuk lingkungan Karesidenan Surakarta dan Kabupaten Klaten dan riwayat pembatikan disini sudah pasti
erat hubungannya dengan sejarah kerajaan kraton Surakarta masa dahulu. Desa Bayat ini sekarang ada pertilasan yang dapat dikunjungi oleh penduduknya dalam waktu-waktu tertentu yaitu “makam Sunan Bayat” di atas gunung
Jabarkat. Jadi pembatikan didesa Bayat ini sudah ada sejak zaman kerjaan dahulu. Pengusaha-pengusaha batik di Bayat tadinya kebanyakan dari
kerajinan dan buruh batik di Solo.
Sementara pembatikan di Kebumen dikenal sekitar awal abad ke-XIX yang dibawa oleh pendatang-pendatang dari Yogya dalam rangka dakwah Islam
antara lain yang dikenal ialah: PenghuluNusjaf. Beliau inilah yang mengembangkan batik di Kebumen dan tempat pertama menetap ialah sebelah Timur Kali Lukolo sekarang dan juga ada peninggalan masjid atas usaha beliau. Proses batik pertama di Kebumen dinamakan teng-abang atau blambangan dan selanjutnya proses terakhir dikerjakan di Banyumas/Solo. Sekitar awal abad ke-XX untuk membuat polanya dipergunakan kunir yang capnya terbuat dari kayu.
Motif-motif Kebumen ialah: pohon-pohon, burung-burungan. Bahan-bahan lainnya yang dipergunakan ialah pohon pace, kemudu dan nila tom. Pemakaian obat-obat import di Kebumen dikenal sekitar tahun 1920 yang diperkenalkan oleh pegawai Bank Rakyat Indonesia yang akhimya meninggalkan bahan-bahan bikinan sendiri, karena menghemat waktu. Pemakaian cap dari tembaga dikenal sekitar tahun 1930 yang dibawa oleh Purnomo dari Yogyakarta. Daerah pembatikan di Kebumen ialah didesa: Watugarut, Tanurekso yang banyak dan ada beberapa desa lainnya.
Dilihat dengan peninggalan-peninggalan yang ada sekarang dan cerita-cerita yang turun-temurun dari terdahulu, maka diperkirakan didaerah Tasikmalaya batik dikenal sejak zaman “Tarumanagara” dimana peninggalan yang ada
sekarang ialah banyaknya pohon tarum didapat disana yang berguna un-tuk pembuatan batik waktu itu. Desa peninggalan yang sekarang masih
ada pembatikan dikerja-kan ialah: Wurug terkenal dengan batik kerajinannya, Sukapura, Mangunraja, Maronjaya dan Tasikmalaya kota.
Dahulu pusat dari pemerintahan dan keramaian yang terkenal ialah desa Sukapura, Indihiang yang terletak dipinggir kota Tasikmalaya sekarang.
Kira-kira akhir abad ke-XVII dan awal abad ke- XVIII akibat dari peperangan antara kerajaan di Jawa Tengah, maka banyak dari penduduk daerah:
Tegal, Pekalongan, Banyumas dan Kudus yang merantau kedaerah Barat dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya. Sebagian besar dari mereka ini
adalah pengusaha-pengusaha batik daerahnya dan menuju kearah Barat sambil berdagang batik.
Dengan datangnya penduduk baru ini, dikenallah selanjutnya pembutan baik memakai soga yang asalnya dari Jawa Tengah. Produksi batik Tasikmalaya sekarang adalah campuran dari
batik-batik asal Pekalongan, Tegal, Banyumas, Kudus yang beraneka pola dan warna. Pembatikan dikenal di Ciamis sekitar abad ke-XIX setelah selesainya peperangan Diponegoro, dimana
pengikut-pengikut Diponegoro banyak yang meninggalkan Yogyakarta, menuju ke selatan. Sebagian ada yang menetap didaerah Banyumas dan sebagian ada yang meneruskan perjalanan ke selatan dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya
sekarang. Mereka ini merantau dengan keluarganya dan ditempat baru menetap menjadi penduduk dan melanjutkan tata cara hidup dan pekerjaannya. Sebagian dari mereka ada yang ahli dalam pembatikan sebagai pekerjaan kerajinan
rumah tangga bagi kaum wanita. Lama kelamaan pekerjaan ini bisa berkembang pada penduduk sekitarnya akibat adanya pergaulan sehari-hari atau hubungan keluarga. Bahan-bahan yang
dipakai untuk kainnya hasil tenunan sendiri danbahan catnya dibuat dari pohon seperti: mengkudu, pohon tom, dan sebagainya. Motif batik hasil Ciamis adalah campuran dari batik Jawa Tengah dan pengaruh daerah sendiri terutama motif dan warna Garutan. Sampai awal-
awal abad ke-XX pembatikan di Ciamis berkembang sedikit demi sedikit, dari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran. Sedang di daerah Cirebon batik ada kaintannya dengan kerajaan
yang ada di aerah ini, yaitu Kanoman, Kasepuahn dan Keprabonan. Sumber utama batik Cirebon, kasusnya sama seperti yang di Yogyakarta dan Solo. Batik muncul lingkungan kraton, dan dibawa keluar oleh abdi dalem yang bertempat tinggal di luar kraton. Raja-raja jaman dulu senang dengan
lukisan-lukisan dan sebelum dikenal benang katun, lukisan itu ditempatkan pada daun lontar. Hal itu terjadi sekitar abad ke-XIII. Ini ada kaitannya
dengan corak-corak batik di atas tenunan. Ciri khas batik Cirebonan sebagaian besar bermotifkan
gambar yang lambang hutan dan margasatwa. Sedangkan adanya motif laut karena dipengaruhioleh alam pemikiran Cina, dimana kesultanan Cirebon dahulu pernah menyunting
putri Cina. Sementra batik Cirebonan yang bergambar garuda karena dipengaruhi oleh motif batik Yogya dan Solo.
PEMBATIKAN di JAKARTA
Pembatikan di Jakarta dikenal dan berkembangnya bersamaan dengan daerah-daerah pembatikan lainnya yaitu kira-kira akhir abad ke-XIX.
Pembatikan ini dibawa oleh pendatang-pendatang dari Jawa Tengah dan mereka bertempat tinggal kebanyakan didaerah-daerah pembatikan. Daerah pembatikan yang dikenal di Jakarta tersebar
didekat Tanah Abang yaitu: Karet, Bendungan Ilir dan Udik, Kebayoran Lama, dan daerah Mampang Prapatan serta Tebet. Jakarta sejak zaman sebelum perang dunia kesatu telah menjadi pusat perdagangan antar daerah Indonesia dengan pelabuhannya Pasar Ikan
sekarang. Setelah perang dunia kesatu selesai, dimana proses pembatikan cap mulai dikenal, produksi batik meningkat dan pedagang-pedagang batik mencari daerah pemasaran baru. Daerah
pasaran untuk tekstil dan batik di Jakarta yang terkenal ialah: Tanah Abang, Jatinegara dan Jakarta Kota, yang terbesar ialah Pasar Tanah Abang sejak dari dahulu sampai sekarang. Batik-
batik produksi daerah Solo, Yogya, Banyumas, Ponorogo, Tulungagung, Pekalongan, Tasikmalaya, Ciamis dan Cirebon serta lain-lain daerah, bertemu di Pasar Tanah Abang dan dari sini baru
dikirim kedaerah-daerah diluar Jawa. Pedagang-pedagang batik yang banyak ialah bangsa Cina dan Arab, bangsa Indonesia sedikit dan kecil.
Oleh karena pusat pemasaran batik sebagian besar di Jakarta khususnya Tanah Abang, dan juga bahan-bahan baku batik diperdagangkan ditempat yang sama, maka timbul pemikiran dari pedagang-pedagang batik itu untuk membuka perusahaan batik di Jakarta dan tempatnya ialah berdekatan dengan Tanah Abang. Pengusaha-pengusaha batik
yang muncul sesudah perang dunia kesatu, terdiri dari bangsa cina, dan buruh-buruh batiknya didatangkan dari daerah-daerah pembatikan Pekalongan, Yogya, Solo dan lain-lain. Selain dari
buruh batik luar Jakarta itu, maka diambil pula tenaga-tenaga setempat disekitar daerah pembatikan sebagai pembantunya. Berikutnya, melihat perkembangan pembatikan ini membawa lapangan kerja baru, maka penduduk asli daerah
tersebut juga membuka perusahaan-perusahaan batik. Motif dan proses batik Jakarta sesuai dengan asal buruhnya didatangkan yaitu: Pekalongan, Yogya, Solo dan Banyumas. Bahan-bahan baku batik yang dipergunakan ialah hasil tenunan sendiri dan obat-obatnya hasil
ramuan sendiri dari bahan-bahan kayu mengkudu, pace, kunyit dan sebagainya. Batik Jakarta sebelum perang terkenal dengan batik kasarnya warnanya sama dengan batik Banyumas. Sebelum
perang dunia kesatu bahan-bahan baku cambric sudah dikenal dan pemasaran hasil produksinya di Pasar Tanah Abang dan daerah sekitar Jakarta.
PEMBATIKAN di LUAR JAWA
Dari Jakarta, yang menjadi tujuan pedagang- pedagang di luar Jawa, maka batik kemudian berkembang di seluruh penjuru kota-kota besar di Indonesia yang ada di luar Jawa, daerah Sumatera
Barat misalnya, khususnya daerah Padang, adalah daerah yang jauh dari pusat pembatikan dikota- kota Jawa, tetapi pembatikan bisa berkembang
didaerah ini.
Sumatera Barat termasuk daerah konsumen batik sejak zaman sebelum perang dunia kesatu, terutama batik-batik produksi Pekalongan (saaingnya) dan Solo serta Yogya. Di Sumatera
Barat yang berkembang terlebih dahulu adalah industri tenun tangan yang terkenal “tenun Silungkang” dan “tenun plekat”. Pembatikan mulai berkembang di Padang setelah pendudukan Jepang,
dimana sejak putusnya hubungan antara Sumatera dengan Jawa waktu pendudukan Jepang, maka
persediaan-persediaan batik yang ada pada pedagang-pedagang batik sudah habis dan konsumen perlu batik untuk pakaian sehari-hari mereka. Ditambah lagi setelah kemerdekaan Indonesia, dimana hubungan antara kedua pulau
bertambah sukar, akibat blokade-blokade Belanda, maka pedagang-pedagang batik yang biasa hubungan dengan pulau Jawa mencari jalan untuk membuat batik sendiri.
Dengan hasil karya sendiri dan penelitian yang seksama, dari batik-batik yang dibuat di Jawa, maka ditirulah pembuatan pola-polanya dan ditrapkan pada kayu sebagai alat cap. Obat-obat batik yang dipakai juga hasil buatan sendiri yaitu dari tumbuh-tumbuhan seperti mengkudu, kunyit, gambir, damar dan sebagainya. Bahan kain putihnya diambilkan dari kain putih bekas dan hasil tenun tangan.
Perusahaan batik pertama muncul
yaitu daerah Sampan Kabupaten Padang Pariaman tahun 1946 antara lain: Bagindo Idris, Sidi Ali, Sidi Zakaria, Sutan Salim, Sutan Sjamsudin dan di Payakumbuh tahun 1948 Sdr. Waslim (asal Pekalongan) dan Sutan Razab. Setelah daerah
Padang serta kota-kota lainnya menjadi daerah pendudukan tahun 1949, banyak pedagang- pedagang batik membuka perusahaan-perusahaan/ bengkel batik dengan bahannya didapat dari Singapore melalui pelabuhan Padang dan Pakanbaru. Tetapi pedagang-pedagang batik ini
setelah ada hubungan terbuka dengan pulau Jawa, kembali berdagang dan perusahaanny a mati. Warna dari batik Padang kebanyakan hitam, kuning dan merah ungu serta polanya Banyumasan, Indramajunan, Solo dan Yogya.
Sekarang batik produksi Padang lebih maju lagi tetapi tetap masih jauh dari produksi-produksi dipulau Jawa ini. Alat untuk cap sekarang telah dibuat dari tembaga dan produksinya kebanyakan
sarung.
Sumber

RPP SOSIOLOGI 2017



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Satuan Pendidikan               : SMA .......
Kelas/ Semester                    : XI /1
Mata Pelajaran                     : Sosiologi
Materi Pokok                       : Pembentukan kelompok sosial
Pertemuan Ke                      : 1- 10
Alokasi waktu                      : 22X 45 menit

A.  Kompetensi Inti
KI 1     :           Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KI 2     :           Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
KI 3     :           Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,  kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
KI 4     :           Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

B.  Kompetensi Dasar  :

3.1  Memahami tinjauan Sosiologi dalam mengkaji pengelompokkan sosial dalam masyarakat
4.1  Melakukan kajian, pengamatan dan diskusi tentang pengelompokkan sosial dengan menggunakan tinjauan Sosiologi

C. Indikator Pencapaian kompetensi     :                                           
·       Memahami dan memperdalam nilai agama yang dianutnya dan menghargai kebera-gaman agama dengan menjunjung tinggi keharmonisan dalam kehidupan berma-syarakat
·           Memahami dan menumbuhkan kesadaran individu untuk memiliki tanggung jawab publik dalam ranah perbedaan sosial
·           Memahami dan menunjukkan sikap toleransi dan empati sosial terhadap perbedaan sosial
·           Menjelaskan pengertian kelompok sosial
·           Menjelaskan latar belakang timbulnya kelompok sosial
·           Menyebutkan ciri-ciri kelompok sosial
·           Menjelaskan tipe-tipe kelompok sosial

D. Tujuan Pembelajaran :
Setelah  mempelajari materi ini, siswa diharapkan mampu :
1.      Menjelaskan pengertian kelompok sosial
2.      Menjelaskan latar belakang timbulnya kelompok sosial
3.      Menyebutkan ciri-ciri kelompok sosial
4.      Menjelaskan tipe-tipe kelompok sosial

E. Materi Ajar :
Pembentukan kelompok sosial
    1. Pengertian, latarbelakang, ciri-ciri dan tipe-tipe kelompok sosial.

    
F. Metode Pembelajaran :
    Pendekatan pembelajaran : scientific
    Metode Pembelajaran       : Ceramah, diskusi, tanya jawab dan penugasan
    Strategi pembelajaran        : problem base learning

G. Langkah-Langkah Pembelajaran
Pertemuan 1
Kegiatan
                                Deskripsi
Alokasi Waktu
Pendahuluan
( appersepsi )
·         Guru mengajak peserta didikuntuk berdoa sebelum memulai pelajaran ( bila jam pertama ).
·         Guru mengucapkan salam
·         Mengabsensi Siswa
·         Mempersiapkan kelas agar lebih kondusif untuk memulai proses KBM
·         Guru memberikan penjelasan tentang tujuan akhir dari pembelajaran materi pada hari itu.



10 Menit
Inti
Mengamati:
Mengamati  kelompok-kelompok sosial yang ada di masyarakat dari berbagai sumber pengetahuan.

Menanya:
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang pengertian kelompok sosial.
Mengeksperimenkan/Mengeksplorasikan:
Mengidentifikasi  pengertian kelompok sosial dari berbagai sumber pengetahuan.

Mengasosiasikan:
Memberikan arti, merumuskan dan menyimpulkan pengertian kelompok sosial

Mengomunikasikan:
Menyampaikan hasil kesimpulan pengertian kelompok sosial dari berbagai sumber di depan kelas.

60 menit
Penutup
·      Mengerjakan tugas mandiri sebagai pekerjaan rumah sebagai refleksi dari materi yang telah dibahas
·      Pembelajaran pada hari ini diselesaikan dengan doa penutup dan di akhiri salam.
20 Menit

Pertemuan 2
Pendahuluan
( appersepsi )
·         Guru mengajak peserta didikuntuk berdoa sebelum memulai pelajaran ( bila jam pertama ).
·         Guru mengucapkan salam
·         Mengabsensi Siswa
·         Mempersiapkan kelas agar lebih kondusif untuk memulai proses KBM
·         Guru memberikan penjelasan tentang tujuan akhir dari pembelajaran materi pada hari itu.

10 Menit
Inti
Mengamati:
Mengamati  kelompok-kelompok sosial yang ada di masyarakat dari berbagai sumber pengetahuan.

Menanya:
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana terbentuknya kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat.

Mengeksperimenkan/Mengeksplorasikan:
Mengidentifikasi  bagaimana  masyarakat terbentuk secara sederhana dari berbagai sumber pengetahuan dan hasil pengamatan 

Mengasosiasikan:
Memberikan arti, merumuskan dan menyimpulkan hasil pengamatan untuk memperdalam pengenalan terhadap terbentuknya kelompok sosial

Mengomunikasikan:
Menyampaikan hasil pengamatan dan kesimpulan yang diperoleh dari pengamatan dalam diskusi kelas tentang terbentuknya kelompok sosial.
60 menit
Penutup
·      Mengerjakan tugas mandiri sebagai pekerjaan rumah sebagai refleksi dari materi yang telah dibahas
·      Pembelajaran pada hari ini diselesaikan dengan doa penutup dan di akhiri salam.
20 Menit

Pertemuan 3
Pendahuluan
( appersepsi )
·         Guru mengajak peserta didikuntuk berdoa sebelum memulai pelajaran ( bila jam pertama ).
·         Guru mengucapkan salam
·         Mengabsensi Siswa
·         Mempersiapkan kelas agar lebih kondusif untuk memulai proses KBM
·         Guru memberikan penjelasan tentang tujuan akhir dari pembelajaran materi pada hari itu.

10 Menit
Inti
Mengamati:
Mengamati  kelompok-kelompok sosial yang ada di masyarakat dari berbagai sumber pengetahuan.

Menanya:
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana ciri- ciri  kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat.

Mengeksperimenkan/Mengeksplorasikan:
Mengidentifikasi ciri- ciri kelompok sosial yang ada di sekolah dan lingkungan tempat tinggal dari hasil pengamatan 

Mengasosiasikan:
Memberikan arti, merumuskan dan menyimpulkan hasil pengamatan untuk memperdalam pengenalan terhadap ciri- ciri kelompok sosial

Mengomunikasikan:
Menyampaikan hasil pengamatan dan kesimpulan yang diperoleh dari pengamatan dalam diskusi kelas tentang ciri- ciri kelompok sosial.
60 menit
Penutup
·      Mengerjakan tugas mandiri sebagai pekerjaan rumah sebagai refleksi dari materi yang telah dibahas
·      Pembelajaran pada hari ini diselesaikan dengan doa penutup dan di akhiri salam.
20 Menit

Pertemuan 4
Pendahuluan
( appersepsi )
·         Guru mengajak peserta didikuntuk berdoa sebelum memulai pelajaran ( bila jam pertama ).
·         Guru mengucapkan salam
·         Mengabsensi Siswa
·         Mempersiapkan kelas agar lebih kondusif untuk memulai proses KBM
·         Guru memberikan penjelasan tentang tujuan akhir dari pembelajaran materi pada hari itu.


10 Menit
Inti
Mengamati:
Mengamati  kelompok-kelompok sosial yang ada di masyarakat dari berbagai sumber pengetahuan.

Menanya:
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang dasar pembentukan  kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat.

Mengeksperimenkan/Mengeksplorasikan:
Mengidentifikasi dasar pembentukan  kelompok sosial  dari hasil pengamatan 

Mengasosiasikan:
Memberikan arti, merumuskan dan menyimpulkan hasil pengamatan untuk memperdalam pengenalan terhadap dasar pembentukan kelompok sosial

Mengomunikasikan:
Menyampaikan hasil pengamatan dan kesimpulan yang diperoleh dari pengamatan dalam diskusi kelas tentang dasar pembentukan  kelompok sosial.
60 menit
Penutup
·      Mengerjakan tugas mandiri sebagai pekerjaan rumah sebagai refleksi dari materi yang telah dibahas
·      Pembelajaran pada hari ini diselesaikan dengan doa penutup dan di akhiri salam.
20 Menit


Pertemuan 5
Pendahuluan
( appersepsi )
·         Guru mengajak peserta didikuntuk berdoa sebelum memulai pelajaran ( bila jam pertama ).
·         Guru mengucapkan salam
·         Mengabsensi Siswa
·         Mempersiapkan kelas agar lebih kondusif untuk memulai proses KBM
·         Guru memberikan penjelasan tentang tujuan akhir dari pembelajaran materi pada hari itu.

10 Menit
Inti
Mengamati:
Mengamati  kelompok-kelompok sosial yang ada di masyarakat dari berbagai sumber pengetahuan.

Menanya:
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang klasifikasi  kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat.

Mengeksperimenkan/Mengeksplorasikan:
Mengidentifikasi bentuk- bentuk  kelompok sosial  dari hasil pengamatan 

Mengasosiasikan:
Memberikan arti, merumuskan dan menyimpulkan hasil pengamatan untuk memperdalam pengenalan terhadap bentuk- bentuk kelompok sosial

Mengomunikasikan:
Menyampaikan hasil pengamatan dan kesimpulan yang diperoleh dari pengamatan dalam diskusi kelas tentang bentuk- bentuk  kelompok sosial.
60 menit
Penutup
·      Mengerjakan tugas mandiri sebagai pekerjaan rumah sebagai refleksi dari materi yang telah dibahas
·      Pembelajaran pada hari ini diselesaikan dengan doa penutup dan di akhiri salam.
20 Menit

Pertemuan 6
Pendahuluan
( appersepsi )
·         Guru mengajak peserta didikuntuk berdoa sebelum memulai pelajaran ( bila jam pertama ).
·         Guru mengucapkan salam
·         Mengabsensi Siswa
·         Mempersiapkan kelas agar lebih kondusif untuk memulai proses KBM
·         Guru memberikan penjelasan tentang tujuan akhir dari pembelajaran materi pada hari itu.

10 Menit
Inti
Mengamati:
Mengamati  kelompok-kelompok sosial nyata yang ada di masyarakat dari berbagai sumber pengetahuan.

Menanya:
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang kelompok sosial nyata yang ada di dalam masyarakat.

Mengeksperimenkan/Mengeksplorasikan:
Mengidentifikasi  kelompok sosial  nyata dari hasil pengamatan 

Mengasosiasikan:
Memberikan arti, merumuskan dan menyimpulkan hasil pengamatan untuk memperdalam pengenalan terhadap  kelompok sosial nyata yang ada di lingkungan tempat tinggal.

Mengomunikasikan:
Menyampaikan hasil pengamatan dan kesimpulan yang diperoleh dari pengamatan dalam diskusi kelas tentang  kelompok sosial nyata.
60 menit
Penutup
·           Mengerjakan tugas mandiri sebagai pekerjaan rumah sebagai refleksi dari materi yang telah dibahas
·           Pembelajaran pada hari ini diselesaikan dengan doa penutup dan di akhiri salam.
20 Menit

Pertemuan 7
Pendahuluan
( appersepsi )
·         Guru mengajak peserta didikuntuk berdoa sebelum memulai pelajaran ( bila jam pertama ).
·         Guru mengucapkan salam
·         Mengabsensi Siswa
·         Mempersiapkan kelas agar lebih kondusif untuk memulai proses KBM
·         Guru memberikan penjelasan tentang tujuan akhir dari pembelajaran materi pada hari itu.
10 Menit
Inti
Mengamati:
Mengamati  kelompok-kelompok sosial semu( kerumunan, masa, publik)  yang ada di masyarakat dari berbagai sumber pengetahuan.

Menanya:
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang kelompok sosial semu yang ada di dalam masyarakat.

Mengeksperimenkan/Mengeksplorasikan:
Mengidentifikasi  kelompok sosial  semu dari hasil pengamatan 

Mengasosiasikan:
Memberikan arti, merumuskan dan menyimpulkan hasil pengamatan untuk memperdalam pengenalan terhadap  kelompok sosial semu yang ada di lingkungan tempat tinggal.

Mengomunikasikan:
Menyampaikan hasil pengamatan dan kesimpulan yang diperoleh dari pengamatan dalam diskusi kelas tentang  kelompok sosial semu.
60 menit
Penutup
·  Mengerjakan tugas mandiri sebagai pekerjaan rumah sebagai refleksi dari materi yang telah dibahas
·  Pembelajaran pada hari ini diselesaikan dengan doa penutup dan di akhiri salam.
20 Menit

Pertemuan 8
Pendahuluan
( appersepsi )
·         Guru mengajak peserta didikuntuk berdoa sebelum memulai pelajaran ( bila jam pertama )
·         Guru mengucapkan salam
·         Mengabsensi Siswa
·         Mempersiapkan kelas agar lebih kondusif untuk memulai proses KBM
·         Guru memberikan penjelasan tentang tujuan akhir dari pembelajaran materi pada hari itu.
10 Menit
Inti
Mengamati:
Mengamati  kelompok-kelompok sosial yang ada di masyarakat dari berbagai sumber pengetahuan.

Menanya:
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang perbedaan kelompok sosial nyata dan semu yang ada di dalam masyarakat.

Mengeksperimenkan/Mengeksplorasikan:
Mengidentifikasi  kelompok sosial  nyata dan semu dari hasil pengamatan 

Mengasosiasikan:
Memberikan arti, merumuskan dan menyimpulkan hasil pengamatan untuk memperdalam pengenalan terhadap  perbedaan kelompok sosial nyata dan semu yang ada di lingkungan tempat tinggal.
Mengomunikasikan:
Menyampaikan hasil pengamatan dan kesimpulan yang diperoleh dari pengamatan dalam diskusi kelas tentang  perbedaan kelompok sosial nyata dan semu.
60 menit
Penutup
·  Mengerjakan tugas mandiri sebagai pekerjaan rumah sebagai refleksi dari materi yang telah dibahas
·  Pembelajaran pada hari ini diselesaikan dengan doa penutup dan di akhiri salam.
20 Menit

Pertemuan 9
Pendahuluan
( appersepsi )
·         Guru mengajak peserta didikuntuk berdoa sebelum memulai pelajaran ( bila jam pertama ).
·         Guru mengucapkan salam
·         Mengabsensi Siswa
·         Mempersiapkan kelas agar lebih kondusif untuk memulai proses KBM
·         Guru memberikan penjelasan tentang tujuan akhir dari pembelajaran materi pada hari itu.


10 Menit
Inti
Mengamati:
Mengamati  kelompok-kelompok sosial yang ada di masyarakat dari berbagai sumber pengetahuan.

Menanya:
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang contoh- contoh kelompok sosial nyata dan semu yang ada di dalam masyarakat.

Mengeksperimenkan/Mengeksplorasikan:
Mengidentifikasi  contoh- contoh kelompok sosial  nyata dan semu dari hasil pengamatan 

Mengasosiasikan:
Memberikan arti, merumuskan dan menyimpulkan hasil pengamatan untuk memperdalam pengenalan terhadap  contoh kelompok sosial nyata dan semu yang ada di lingkungan tempat tinggal.

Mengomunikasikan:
Menyampaikan hasil pengamatan dan kesimpulan yang diperoleh dari pengamatan dalam diskusi kelas tentang  contoh- contoh kelompok sosial nyata dan semu.

60 menit
Penutup
·  Mengerjakan tugas mandiri sebagai pekerjaan rumah sebagai refleksi dari materi yang telah dibahas
·  Pembelajaran pada hari ini diselesaikan dengan doa penutup dan di akhiri salam.
20 Menit

Pertemuan 10
Pendahuluan
( appersepsi )
·         Guru mengajak peserta didikuntuk berdoa sebelum memulai pelajaran ( bila jam pertama ).
·         Guru mengucapkan salam
·         Mengabsensi Siswa
·         Mempersiapkan kelas agar lebih kondusif untuk memulai proses KBM
·         Guru memberikan penjelasan tentang tujuan akhir dari pembelajaran materi pada hari itu.

10 Menit
Inti
Mengamati:
Mengamati  kelompok-kelompok sosial sebagai bukti keanekaragaman masyarakat Indonesia dari berbagai sumber pengetahuan.

Menanya:
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang contoh- contoh kelompok sosial sebagai wujud keanekaragaman masyarakat yang multikultural.

Mengeksperimenkan/Mengeksplorasikan:
Mengidentifikasi  contoh- contoh kelompok sosial  yang ada di Indonesia dari hasil pengamatan 

Mengasosiasikan:
Memberikan arti, merumuskan dan menyimpulkan hasil pengamatan untuk memperdalam pengenalan terhadap  contoh kelompok sosial  yang ada di Indonesia.

Mengomunikasikan:
Menyampaikan hasil pengamatan dan kesimpulan yang diperoleh dari pengamatan dalam diskusi kelas tentang  contoh- contoh kelompok sosial yang ada di Indonesia.
60 menit
Penutup
·  Mengerjakan tugas mandiri sebagai pekerjaan rumah sebagai refleksi dari materi yang telah dibahas
·  Pembelajaran pada hari ini diselesaikan dengan doa penutup dan di akhiri salam.
20 Menit

H. Media / alat Pembelajaran
spidol, white board
     Media massa seperti majalah, koran dan internet
     Power point

I.  Sumber Belajar
    - Buku Sosiologi dan Antropologi  untuk  SMA kelas XI ESIS
    - Buku Sosiologi kelas XI Erlangga
    - Buku lain yang relevan

J. Penilaian Hasil Belajar
 Teknik : Test
a.    Test  : Essay
1.      Jelaskan pengertian kelompok sosial?
2.      Jelaskan latar belakang terbentuknya kelompok sosial!
3.      Jelaskan cii-ciri kelompok sosial?
4.      Sebutkan 5 kelompok sosial yang ada di sekitar tempat tinggalmu!
5.      Sebutkan contoh kelompok sosial primer, sekunder, gemenchaff, gesselschaff, formal, dan informal!
6.      Jelaskan mengenai kelompok semu!
7.      Jelaskan pengertian formal audience,spectator causal crowd dan inconvinient causal crowd!
8.      Berikan contoh kerumunan di atas!
9.      Jelaskan pengertian masa danpublik!
10.  Berikan contoh masa dan publik!

b.      Kinerja Ilmiah
Carilah contoh-contoh kelompok sosial di koran dan Internet kemudian analisis dan kumpulkan hasilnya kepada guru.
No.
Nama
ASPEK PENILAIAN
Total nilai

Presentasi

Sikap
Keaktifan
Wawasan
Kemampuan mengemukakan pendapat

Kerja sama












Keterangan: nilai maksimal 20

LEMBAR OBSERVASI DISKUSI KELOMPOK
No
Nama Siswa
Aspek yang Dinilai
Skor/ Jumlah
1
2
3
4
5
6











Aspek yang dinilai:
1.        Kemampuan menyampaikan pendapat.
2.        Kemampuan memberikan argumentasi.
3.        Kemampuan memberikan kritik.
4.        Kemampuan mengajukan pertanyaan.
5.        Kemampuan menggunakan bahasa yang baik.
6.        Kelancaran berbicara.



Penskoran:                                                     Jumlah skor:
A. Tidak Baik             Skor 1                          24—30 = Sangat Baik
B. Kurang Baik           Skor 2                          18—23 = Baik
C. Cukup Baik                        Skor 3                          12—17 = Cukup
D. Baik                        Skor 4                          6—11 = Kurang
E. Sangat Baik            Skor 5



FORMAT PENILAIAN PROSES DISKUSI

No

Nama Siswa

Kriteria Penilaian
Jumlah Skor
1
2
3
4
5
1







2







dst







Keterangan:                                                                 Rentang skor : 1—3
b.      Aktivitas dalam kelompok                                 12—15           = Sangat baik
c.       Tanggung jawab individu                                  9—11             = Baik
d.      Pemikiran                                                           6—8               = Cukup         
e.       Keberanian berpendapat                                                 3—5               = Kurang        
f.       Keberanian tampil         




Lembar Pengamatan Sikap

No
Aspek yang dinilai
3
2
1
Keterangan
1
Menunjukkan rasa syukur kepada Tuhan




2
memiliki rasa ingin tahu (curiosity)




3
menunjukkan ketekunan dan tanggungjawab dalam belajar dan bekerja baik secara individu maupun berkelompok










Rubrik Penilaian Sikap


No
Aspek yang dinilai
Rubrik
1
Menunjukkan rasa syukur kepada Tuhan YME
3: menunjukkan ekspresi rasa syukur kepada Tuhan YME pada satu atau lebih kesempatan (topik)
2:  belum secara eksplisit menunjukkan ekspresi atau ungkapan syukur, namun menaruh minat terhadap kebesaran Tuhan saat refleksi    
1: belum menunjukkan ekspresi rasa syukur, atau menaruh minat terhadap terhadap kebesaran Tuhan saat refleksi
2
Menunjukkan rasa ingin tahu
3: menunjukkan rasa ingin tahu yang besar, antusias, terlibat aktif dalam kegiatan kelompok 
2: menunjukkan rasa ingin tahu, namun tidak terlalu antusias, dan baru terlibat aktif dalam kegiatan kelompok ketika disuruh
1: tidak menunjukkan antusias dalam pengamatan, sulit terlibat aktif dalam kegiatan kelompok  walaupun telah didorong untuk terlibat
3
Menunjukkan ketekunan dan tanggungjawab dalam belajar dan bekerja baik secara individu maupun berkelompok

3:  tekun dalam menyelesaikan tugas dengan hasil terbaik yang bisa dilakukan, berupaya tepat waktu.
2: berupaya tepat waktu dalam menyelesaikan tugas, namun belum menunjukkan upaya terbaiknya
1: tidak berupaya sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas, dan tugasnya tidak selesai

Kunci Jawaban!
1.    Kelompok sosial adalah sekumpulan orang yang memiliki tujuan yang sama,saling berinteraksi, dan memiliki kesadaran sebagai anggota kelompok.
2.    Dasar pembentukan kelompok sosial : Kesatuan religius,kesatuan genealogis, kesatuan teritorial dan geografis.                                  
3.    Ciri- ciri kelompok sosial antara lain: terdiri dari beberapa orang, saling berinteraksi, memiliki tujuan yang sama, memiliki kaidah tertentu, memiliki kesadaran kelompok, bersistem dan berproses.
4.    Karang taruna,kelomok rebana,remaja masjid, OSIS dan lain-lain.
5.    Kel.primer: keluarga. Kel.sekunder: PGRI. Kel.gemenshaff: marga sitohang. Kel.geselschaff: kelompok karyawan perusahaan. Kel.formal: sekolah. Kel.informal: klub vespa.
6.    Kelompok semu adalah kelompok yang bersifat sementara,spontan, tidak terorganisir.
7.    Formal audience adalah kerumunan pasif. Spectator causal crowd adalah kerumunan penonton. Incoviniennt causal crowd adalah kerumunan yang senang akan kehadiran pihak lain.
8.    Kerumunan pendengar khotbah, kerumunan melihat kecelakaan, kerumunan antri BBM.
9.    Masa adalah kumpulan banyak orang pada satu tempat melalui rencana. Publik adalah kumpulan orang tidak pada satu tempat tetapi satu fokus perhatian.
10.    Masa: orang- orang yang sedang demo.publik: orang- orang yang sedang menoton pertandingan sepakbola di TV.






                                                                               Ketanggungan,      Juli  2017
Mengetahui
Kepala Sekolah                                                             Guru Mata Pelajaran

Info Terkini

Kaos Kaki Soka dan Lainnya

Gambar-gambar kaos kaki soka.... Pemesanan : Farij Maftukhin Hp. 0857 8606 6517 (M3) / 0823 2724 1566 ...